Bagaimana Deteksi Monkeypox Di Indonesia?

Monkeypox – Penyakit Apakah Itu?

Sebelum kita membahas bagaimana deteksi Monkeypox di Indonesia, sebaiknya kita membahas terlebbih dahulu apa dan bagaimana penyakit ini. Monkeypox atau cacar monyet merupakan penyakit akibat virus monkeypok (MPXV) yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Secara taksonomi, virus ini termasuk genus Orthopoxvirus dan family Poxviridae. Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar Smallpox) dan virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar Smallpox).

Monkeypox pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di Denmark ketika ada dua kasus seperti cacar muncul pada kera yang dipelihara untuk penelitian, sehingga cacar ini dinamakan ‘monkeypox’. Saat ini sudah ada 300 kasus cacar monyet yang terkonfirmasi dan dicurigai (suspect). Rata-rata terjadi di Eropa, Amerika Utara, dan Australia. Cacar monyet sendiri adalah endemi di Afrika Tengah dan Barat. Beberapa negara telah menganjurkan vaksinasi untuk membendung penyakit cacar ini.

Beberapa penelitian telah melaporkan bahwa penularan antar manusia dapat terjadi melalui kontak langsung seperti melalui saliva (melalui batuk), kulit, atau benda yang terkontaminasi. Sehingga tenaga kesehatan, orang yang tinggal serumah dan kontak erat lain merupakan orang yang berisiko tinggi terkena penyakit ini. Penularan juga terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin atau kontak selama persalinan. Penularan seksual masih belum jelas sehingga perlu penelitian lebih lanjut.

Baca juga: Infeksi Adenovirus pada Hepatitis Misterius

Beberapa cara mencegah penularan Monkeypox:

  • Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti cuci tangan dengan air dan sabun, atau menggunakan pembersih tangan berbahan dasar alkohol.
  • Menghindari kontak langsung dengan tikus atau primata
  • Jika mengkonsumsi daging, maka harus mengolahnya dengan baik dan matang.
  • Menghindari kontak fisik dengan orang yang terinfeksi, termasuk barang yang sudah penderita pakai.
  • Menghindari kontak dengan hewan liar atau mengkonsumsi daging hewan liar hasil berburu.
  • Segera periksa bila kembali dari wilayah terjangkit monkeypox dan mengalami gejala-gejala demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan, serta menginformasikan kepada petugas kesehatan tentang riwayat perjalanannya.
  • Petugas kesehatan agar menggunakan sarung tangan, masker dan baju pelindung saat menangani pasien atau binatang yang sakit.

Apakah penyakit monkeypox ini sudah dapat dideteksi di Indonesia?

PT Biosains Medika Indonesia mempunyai produk yang dapat mendeteksi virus monkeypox yaitu reagen ANDiS Monkeypox virus nucleic acid Detection kit (Fluorescence PCR). Semua pemeriksaan berbasis RT-PCR atau NAAT (Nucleic Acid Amplification Tests).

Spesifikasi pengujian Deteksi Monkeypox:

  • sampel: swab nanah-lesi.
  • Sensitivitas: LoD 200 copies/ml
  • Spesifisitas: No cross-reaction between other virus gene and Staphylococcus aureus
  • Dijalankan di alat: Bio-Rad CFX-96 Deep Weel Dx System dan ABI QuantStudio 5 Real-Time PCR Instrument atau alat real-time PCR lainnya.
  • Deteksi floresen : FAM & VIC
  • Kemasan : 48 test/kit dan 96 test/Kit.

Alur kerja Deteksi Monkeypox:

Deteksi monkeypox dengan reagen ANDiS Monkeypox virus nucleic acid Detection kit (Fluorescence PCR).

Alur kerja deteksi monkeypox – foto istimewa biosm-indonesia
  1. Sampling: Sampel nanah-lesi
  2. DNA Extraction: Ekstraksi virus dengan NA Viral Isolation Kit di Alat ANDiS350 Automated NA Extraction System
  3. RT-PCR: Proses amplifikasi – deteksi di alat real-time PCR
  4. Data Anlysis: Interpretasi hasil

Interpretasi hasil ANDiS Monkeypox virus nucleic acid Detection kit (Fluorescence PCR) sebagai berikut:

Tabel interpretasi monkeypox – foto istimewa biosm-indonesia
Tabel 2 interpretasi monkeypox – foto istimewa biosm-indonesia

PT Biosains Medika Indonesia dapat memfasilitasi diskusi lebih lanjut mengenai Produk Deteksi Monkeypox, Anda dapat melakukan diskusi dan penelitian lebih lanjut bersama kami dengan menghubungi kontak: Lianita Atmadja/Biosm Indonesia (+62 817 9154 607/info@biosm-indonesia.com/marketing@biosm-indonesia)

Sumber:

  1. https://covid19.kemkes.go.id/situasi-infeksi-emerging/frequently-asked-questions-faq-monkeypox
  2. https://www.cnbcindonesia.com/news/20220531055041-4-343040/who-bawa-kabar-baru-soal-cacar-monyet-bakal-jadi-pandemi CDC Atlanta: https://www.cdc.gov/poxvirus/monkeypox/index.html
  3. WHO. 16 Mei. 2022. News. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2022-DON381
  4. WHO. 18 Mei. 2022. News. https://www.who.int/emergencies/disease-outbreak-news/item/2022-DON383
  5. WHO. 19 Mei 2022. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/monkeypox
  6. WHO Euro. 20 Mei 2022. https://www.euro.who.int/en/health-topics/health-emergencies/pages/news/news/2022/05/monkeypox-cases-reported-in-the-who-european-region

Leave a Reply