Uncategorized

EBV DNA Sebagai Biomaker Diagnosis Kanker NasoFaring (KNF)

Kanker NasoFaring (KNF) Adalah?

Kanker Nasofaring (KNF) merupakan salah satu jenis kanker ganas yang sering ditemukan di Asia. Di Indonesia prevalensi kanker ini pada laki-laki berada pada urutan ketiga dengan angka kejadian 10.5/100.000 laki-laki. Puncak insidensi KNF berada pada usia dewasa dan rentang usia 55 – 59 tahun. Beberapa penelitian melaporkan bahwa KNF bisa terjadi oleh paparan asap rokok dan juga konsumsi alkohol. Selain itu, KNF juga telah terbukti memiliki keterkaitan dengan Epstein-Barr Virus (EBV). Hubungan ini  pertama kali terbukti pada tahun 1966 berdasarkan hasil penelitian serologi dengan penemuan DNA EBV dan EBV nuclear antigen (EBNA) pada penderita yang terdiagnosis Kanker NasoFaringKNF.

Penyebab Kanker NasoFaring (KNF)

Beberapa literatur melaporkan bahwa infeksi EBV merupakan etiologi paling dominan penyebab timbulnya karsinoma nasofaring. Lebih dari 90% penduduk dunia telah terinfeksi EBV. Tetapi infeksi primer EBV ini masih inaktif dan belum menunjukkan gejala klinis, Pajanan faktor non viral seperti lingkungan dan genetik dapat mengaktivasi EBV inaktif menjadi aktif sehingga akan menimbulkan gejala klinis KNF. Faktor non-viral yan telah tercatat antaralain: mengonsumsi ikan asin, makanan yang menggunakan pengawet, asap rokok, asap kayu bakar, obat nyamuk bakar dan infeksi kronik saluran nafas bagian atas yang berulang.

Baca juga: Metode NGS, Membantu Mendeteksi Dini Penyakit

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, para peneliti dapat menggunakan DNA EBV  untuk diagnosis, pemantauan respon terapi, dan prediktor prog-nosis pada pasien KNF. Dengan berkembangnya biologi molekular, konsentrasi DNA EBV pada tumor, plasma dan serum pasien KNF, para pelneliti dapat mengukur secara kuantitatif. Pengukuran tersebut melalui teknik polymerase chain reaction (PCR). PT Biosains Medika Indonesia mempunyai produk yang dapat mendeteksi EBV DNA. GeneProof Epstein-Barr Virus (EBV) PCR Kit berbasis RT PCR secara kualitatif dan kuantitatif. Pengujian dapat dengan menggunakan sampel plasma atau cerebrospinal fluid (CSF) .

Spesifikasi

Spesifikasi dari GeneProof Epstein-Barr Virus (EBV) PCR Kit sebagai berikut:

GeneProof Kit

Gambar: GeneProof Epstein-Barr Virus (EBV) PCR Kit untuk Kanker NasoFaring

Target Sequence                 DNA sequence of the single copy gene encoding the  nuclear antigen 1 (EBNA1)

Analytical Specificity        Epstein-Barr virus, 100 %

Analytical Sensitivity        196.088 IU/ml

 (LoD with the probability of 95 %) (on NIBSC EBV 09/260 using manual extraction GeneProof PathogenFree DNA Isolation Kit)

Diagnostic Specificity      100 % (CI95%: 83.98 % – 100 %)

Diagnostic Sensitivity      100 % (CI95%: 96.53 % – 100 %)

Linear Range                       1010 – 102.5 IU/ml with precision of ± 0.5 log

Dynamic Range                  1010 – 196.088 IU/ml

Reporting Units                  cp/μl

Conversion factor              1 IU = 1 cp

Metrological Traceability NIBSC EBV 09/260

Validated Specimen            BAL, CSF, plasma, whole blood

External Quality Assessment Regularly tested by QCMD and INSTAND e.V. External Quality Assessment Panels.

Regulatory Status                   CE IVD


PT Biosains Medika Indonesia dapat memfasilitasi diskusi lebih lanjut mengenai Produk GeneProof Epstein-Barr Virus (EBV) PCR Ki, Anda dapat melakukan diskusi dan penelitian lebih lanjut bersama kami dengan menghubungi kontak: Biosm Indonesia (+62 817 9154 607/info@biosm-indonesia.com/marketing@biosm-indonesia)

Baca juga: Metode Baru dalam Pengobatan selain Transplantasi Sel Punca

Sumber :

  1. Faktor Risiko Non Viral Pada Karsinoma Nasofaring. Sukri Rahman, Bestari Jaka Budiman, Histawara Subroto, Jurnal.fk.unand.ac.id.
  2. Kadar Plasma Epstein-Barr Virus DNA sebagai Parameter Prognosis pada Kanker Nasofaring Tidak Berkeratin. Sinta Prastiana Dewi*, Handoko*, Marlinda Adham Yudharto**, Soehartati A. Gondhowiardjo*. *Unit Pelayanan Onkologi Radiasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia. **Departemen Medik Telinga, Hidung, Tenggorok, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, RS dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia.
  3. DNA Epstein-Barr virus (EBV) sebagai biomaker diagnosis karsinoma nasofaring. Janti Sudiono1 dan Irma Hassan2. 1Bagian Patologi Oral, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti 2Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara Jakarta – Indonesia.
  4. Website GeneProof – https://www.geneproof.com/geneproof-epstein-barr-virus-ebv-pcr-kit/p1083

Tinggalkan Balasan